https://youtu.be/oE8DSzTn7s
Tutorial membuat benner di coreldraw x7
Nama : Intan Nia Tata Ayu
NIM : 180321100077
Kelas : B
Senin, 17 Desember 2018
Kamilah Cendekiawan Berpribadi
IMM Bangga Punya IMMawati!.
Kehadiran IMMawati merupakan salah satu faktor Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah (IMM) bisa menjadi organisasi yang besar seperti saat ini.
IMM patut bersyukur, dengan kehadiran IMMawati di dalam tubuh IMM
membuatnya menjadi organisasi yang dinamis dan sangat cocok untuk
membangun tradisi intelektual yang hari ini mulai ditinggalkan oleh
banyak generasi muda. Peran IMMawati yang begitu signifikan dalam
menjalankan dan merawat keberlangsungan IMM sebagai organisasi
intelektual tidak perlu diragukan, semangat pembaharuan yang teraptri di
dalam jiwa seorang IMMawati sangat terlihat ketika para IMMawati
bergerak untuk membangun kemaslahatan ummat, bangsa dan Negara.
Salah satu tokoh perempuan panutan IMM , yakni Ny. Elyda Djazman pun
adalah seorang perempuan yang lahir dari rahim IMM dan besar dengan
menyandang nama IMMawati dipundaknya. Kebanggannya sebagai seorang
IMMawati terlihat tatkala beliau dengan tulus mengabdi baik di IMM,
maupun di perseyerikatan Muhammadiyah. Beliau bahkan menjadi Ketua Umum
PP Aisyiah selama tiga periode. Waktu yang cukup lama bagi sebuah
organisasi sekaliber Aisyiah. Ny. Elyda adalah seorang IMMawati yang
dikenal sangat tangguh, cerdas, dan terampil dalam mengelola organisasi,
pengalamannya yang sangat banyak membuatnya mampu membesarkan nama
IMMawati dan Persyerikatan hingga ke tingkat internasional.
Meskipun beliau merupakan istri dari seorang Djazman Alkindi (pendiri
IMM dan ketua IMM pertama), tapi beliau bukanlah besar karena kehadiran
suami. Justru Ny. Elyda tumbuh menjadi kader Muhammadiyah saat masih
berusia belia. Karena semangat ber-Muhammadiyah sudah dimilikinya sejak
belia itulah yang menghantarkan beliau menjadi seorang tokoh panutan
bagi kader-kader muda Muhammadiyah, khususnya IMM. Perannya sebagai
seorang perempuan dalam dunia public begitu terasa saat masih aktif di
Aisyiah, di mana beliau banyak berkutat pada isu-isu perempuan seperti
TKW, Pekerja Seks, dan seputar kesehatan. Beliau bahkan sering diundang
untuk menjadipembicara di foruminternasional di sejumlah Negara Eropa
dan Asia, termasuk di forum World Healt Organization (WHO). IMM tentu
bangga dengan sosok beliau, seorang IMMawati yang selalu memberikan
contoh bagi kader muda dalam ber-Muhammadiyah dan ber-IMM. Sebagai
seorang IMMawati, beliau tidak hanya panutan bagi kader-kader
Muhammadiyah, namun juga panutan yang sangat disegani di dunia karena
kemampuannya yang jarang dimiliki oleh perempuan manapun.
Selain itu, satu hal yang tidak bisa lepas dari beliau adalah daya
kritis dan sikap proaktif yang selalu menjadi ciri khas. Daya kritis dan
sikap proaktif yang selama ini menjadi ciri khas beliau harus dipegang
teguh dan dicontoh oleh para IMMawati dewasa ini. Hal ini sangat penting
untuk ditumbuhkan agar IMMawati tidak kehilangan identitasnya sebagai
seorang aktivis Muhammadiyah yang banyak mengurusi masalah ummat.
Seorang IMMawati harus mampu menumbuhkan daya kritis karena perannya
sebagai kaum intelektual yang berfungsi untuk melahirkan sebuah gagasan
perubahan dan problem soulving bagi setiap masalah yang ada. Sama halnya
dengan sikap proaktif yang merupakan bentuk impelementasi dari
kompetensi humanitas yang selama ini menjadi identitas seorang kader
IMM. Seorang kader Muhammadiyah, khususnya IMMawati juga perlu memupuk
sikap proaktif agar menjadi manusia-manusia yang berfungsi secara
sosial. Proaktif dalam hal ini adalah sikap yang dibangun dan disalurkan
dalam wilayah-wilayah kemanusiaan yang hari ini miskin akan perhatian
publik. Di tengah maraknya dehumanisasi yang terjadi, sikap proaktif
adalah solusi agar masalah ini tidak menjalar ke mana-mana dan berdampak
pada stabilitas hidup masyarakat yang kadung terbengkalai.
Lantas, mengapa IMM harus bangga memiliki IMMawati?
Kisah Ny. Elyda adalah satu dari sekian banyak contoh yang bisa kita
lihat jika membicarakan peran IMMawati di IMM. Kebanggan IMM terhadap
IMMawati bisa dirasakan pada dua hal. Pertama, IMM patut merasa bangga
terhadap IMMawati karena perannya dalam menjaga eksistensi IMM hingga
hari ini. Peran IMMawati yang sangat terasa dalam IMM adalah
kehadirannya yang mampu menjadi penyeimbang sekaligus pendorong spirit
perjuangan kader-kader IMM dalam menghentaskan berbagai pesoalan
ke-ummatan. IMMawati yang perannya sebagai penopang perjuangan IMM mampu
menghadirkan kenyamanan dan semangat berjuang yang tidak pernah sulut,
bahkan terus berkobar hingga ke sanubari.
Maka tak salah jika IMMawati kita pandang sebagai perempuan laksana
Khadijah yang selalu meyakinkan Muhammad dalam membawa risalah Tuhan
agar sampai kepada ummat manusia, tsk dslsh pula bila IMMawati dianggap
laksana Fatimah yang tiada henti mendampingi Soekarno dalam menjaga
Indonesia agar tidak direbut oleh para penjajah, atau IMMawati laksana
Walidah yang senantiasa ada ketika Ahmad Dahlan tengah tepuruk karena
fitnah yang didapatkannya akibat mendakwahkan kebenaran Islam. Kebesaran
IMM sebagai salah satu organisasi mahasiswa banyak disebabkan oleh
kehadiran IMMawati yang tidak pernah berhenti menopang perjuangan IMM di
tengah masyarakat. IMMawati bagi IMM bagaikan alas peradaban, tanpa
IMMawati IMM hingga hari ini tidak akan mampu berbuat banyak untuk
kemajuan bangsa Indonesia.
Kedua, kehadiran IMMawati membuat IMM sangat terbantu dalam
mengaktualisasikan gerakan sosial yang selama ini menjadi identitas
gerakan. IMMawati sebagai makhluk Tuhan yang sangat istimewa diberkahi
dengan jiwa sosial yang tinggi menguatkan identitas gerakan humanitas
IMM. Di tengah kondisi bangsa yang terus ditimpa berbagai konflik
sosial, seperti kesenjangan, kemiskinan, dan ketertindasan, IMMawati
hadir sebagai motor penggerak perubahan demi terwujudnya masayarakat
utama. Hal ini bisa kita lihat dari apa yang telah dilakukan oleh Ny.
Elyda Djazman yang kala masih aktif di struktur persyerikatan, bahwa
sebagai IMMawati dia tidak pernah berhenti untuk menyuarakan
kepeduliannya pada persoalan-persoalan sosial yang ada, terlebih lagi
pada persoalan-persoalan perempuan.
Maka wajar saja bila IMM begitu bangga memiliki IMMawati, karena
peran krusialnya dalam mengawal gerakan yang telah digagas oleh IMM
sejak berdiri. Ketabahan dan keikhlasan untuk memberikan yang terbaik
bagi kepentingan ummat membuat IMM masih bisa dirasakan perannya sebagai
salah satu organisasi yang penting bagi bangsa Indonesia. Tidak hanya
itu, kehadiran IMMawati juga membuat IMM menjadi organisasi yang
egaliter, menjunjung persamaan, dan menjadi organisasi yang
mengedepankan nilai-nilai kesantunan dalam berinteraksi dengan
lingkungan sosial. IMMawati adalah tumpuan bagi IMM, tanpa IMMawati IMM
menjadi oganisasi yang pincang dalam mengarungi gerak dan langkahnya
sebagai organisasi yang didirikan untuk membela kepentingan ummat.
IMMawati dengan segala hal yang melekat pada dirinya penyempurna bagi
IMM dan Perseyerikatan Muhammadiyah.
**Nur Alim MA Sekretaris Umum PC IMM
Wanita Tangguh Itu Bernama IMMAWATI
“Jika ada manusia yang merendahkan
seorang perempuan katakan padanya bahwa seorang bayi tidak dilahirkan
dari rahim seorang laki-laki” (Adi Munazir)
Masih di pagi yang buta, sayup-sayup dia
mulai melantukan bacaan surat annisa ayat 11. Air matanya berlinang
membasahi mushaf pemberian salah satu senior pada saat dia mengikuti
kegiatan masa taaruf mahasiswa (mastama). Hidupnya mulai berubah
semenjak mengikuti Darul Arqom Dasar (DAD) yang diselenggarakan salah
satu komisariat.
Pesan-pesan pertobatan menghujam tepat di
dasar dadanya dan merupakan titik balik dia menemukan jalan perbaikan.
Materi Keislaman menjadi materi yang paling diingat dan telah
mengatrolnya naik dari kubangan gelap pesona dunia sekaligus peta awal
dia mengawali berhubungan intim dengan pemahaman islam yang
sesungguhnya.
Hidupnya tidak lagi tentang menebalkan
ginju merah di dua buah bibirnya. Tidak juga tentang pamer kegiatan di
laman-laman media sosialnya. Kebiasaan lama benar-benar ditinggalkan,
kini dia membayarnya dengan ucapan yang bernilai pahala, tindakan yang
produktif dan perilaku sopan yang selalu ditunjukkan. Parasnya yang
aduhai membuat lelaki berucap istigfar berkali-kali dan terus mencari
tahu siapakah gerangan ini, wahai Tuhan pemilik hati?.
Jika hadis menggariskan memilih wanita
karena 4 hal; kecantikan, keturunan, harta dan agama. Maka kehadirannya
sebagai seorang mahasiswi yang aktif berorganisasi telah menambah syarat
“aktivis” bagi laki-laki yang akan mempersuntingnya.
Ada guyonan sederhana yang muncul ketika
para aktivis memperbincangkan perihal mengapa seorang the future wife
haruslah seorang aktivis, jawaban yang keluar dari Ozan pada saat itu
adalah agar si dia bisa diajak melek sampe pagi (begadagangan). Jawaban
tersebut juga ada benarnya, mahasiswi yang berlatarbelakang aktivis
memiliki kepekaan yang berbeda dalam melihat persoalan hidup dan terbuka
dalam menjaga ritme interaksi sosial.
Sosok perempuan yang dididik dalam
organisasi biasanya merasakan betul bagaimana dominasi laki-laki menjadi
hal yang biasa dan tejadi kesenjangan kuantitas yang tidak mudah
dijelaskan dengan sesederhana mungkin. Ada banyak faktor yang
menyebabkan perasaan itu muncul kepermukaan.
Doktrin kultural menjadikan perempuan
berfikiran bahwa mereka bukan yang utama dalam tatanan sosial
masyarakat. Dimana-mana suara perempuan tetaplah suara lapis kedua
(backing vokal) sehingga aspirasi jarang tersampaikan. Pun tidak bisa
disalahkan bahwa sifat seorang perempuan yang inferior telah membawanya
pada manusia kedua (the second man) dalam dialektika kehidupan.
Dalam konteks yang lain perempuan
memiliki sifat dan ikatan rasa malu yang cukup tinggi kitab Fathul Izzar
menyebutkan bahwa syahwat itu ada sepuluh bagian sembilan bagian adalah
bagi wanita dan satu bagian lagi bagi laki-laki, hanya saja Alloh
menutup wanita dengan perasaan malu yang cukup kuat.
Jika kita melihat kondisi perempuan di
negara-negara yang maju, rasa malu sudah diterjemahkan ke arah yang
lebih progresif, meskipun aspek negatif dan positif masih dapat
diperdebatkan. Tidak demikian dengan perempuan yang berada pada wilayah
dengan doktrin patrilineal yang ketat. Pemaknaan rasa malu yang salah
telah menyebabkan perempuan tidak memiliki sensivitas dan sikap utama
dalam mengikis dan menghadapi sebuah persolan. Kondisi tersebut tentulah
mengecewakan sehingga memunculkan perasaan daripada malu-maluin lebih
baik mundur dari garis perjuangan.
Memang benar bahwa tidaklah sama antara
perempuan dan laki-laki begitulah Allah memberikan patokannya dalam Ali
Imran (36). Tentu ayat tersebut tidak mungkin ditafsirkan dalam segala
lini kehidupan sehingga menjadi dasar untuk tidak menjadi perempuan yang
maju dalam fikiran dan juga pergerakan. Secara fisik alat kelamin
masing-masing memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda-beda, postur tubuh
dan kekuatan secara fisik juga merupakan bagian dari perbedaan itu.
Tapi ada satu hal penguat dari semua perbedaan bahwa perempuan memiliki
ketangguhan dalam mengarungi kehidupan.
Ketangguhan telah menjadikan perempuan
memiliki modal cukup besar untuk menunjukkan bagaimana mengelola
ketertinggalan. Perempuan yang tangguh tentu tidak sekedar menjalankan
siklus klasik yang selama ini tepusat pada kegiatan menghias diri,
menanak nasi dan berhenti ketika sudah mengurus buah hati.
Ketangguhan itu harus diterjemahkan
dengan tindakan yang tidak bersinggungan dengan kodrat ilahiyah.
Perempuan tangguh harus memiliki sifat kompetitif sejalan dengan
semangat fastabiqulkhoirot yang harus dijadikan pemantik sebuah
semangat.
Perempuan harus mulai masuk dalam wilayah
dominasi laki-laki. Tentu persoalan ketangguhan adalah bagian dari hal
utama dalam menangkal derasnya sebuah persaingan. Dalam sejarah
perjuangan perempuan modern Hillary Clinton rasanya cocok menjadi
contoh terhadap profil perempuan tangguh itu.
Pada tahun 2016 Hillary dikalahkan pada
electoral vote dalam ganasnya pertarungan perebutan presiden di negara
dimana kran demokrasi dibuka lebar-lebar. Amerika adalah simbol dari
bagaimana kesetaraan gender itu dicontohkan sehingga terbuka lebar bagi
perempuan Amerika untuk masuk bersaing dalam setiap lini kehidupan.
Sistem pemilihan yang mengabaikan popular
vote telah menyebabkan Hillary harus memberi ucapaan selamat kepada
Trump. Tidak hanya itu, Pada 2008 silam Hillary juga dikalahkan oleh
Barack Obama dalam konvensi Partai Demokrat.
Tidak mudah bagi Hillary untuk mewujudkan
teriakan perempuan modern seputar kesetaraaan gender dalam realitas
nyata. Dalam urusan hati, Hillary juga pernah disakiti oleh Bill Clinton
yang merupakan suami sekaligus presiden Amerika. Kisah cinta Bill
dengan salah satu anak magang Gedung Putih sempat menjadi buah bibir
yang menggemparkan warga Amerika dan Dunia. Hillary sebagai ibu negara
merasa ditampar secara berjamaah oleh rakyat Amerika bagaimana mungkin
seorang Presiden bermain serong sebanyak 3 kali dengan anak magang?
Tangguhnya Hillary dalam menjalani
kehidupan juga membuahkan hasil. Hillary tetaplah dikenang sebagai ibu
negara, seorang menteri luar negeri Amerika sekaligus politisi perempuan
yang tangguh. Pengalaman Hillary tentu merupakan puncak dari bagaimana
sesungguhnya tajamnya dinamika yang terjadi dalam aktivitas kehidupan
perempuan.
Dengan demikian perempuan tetaplah
tangguh dibalik perbedaan yang menjadi kodrat ilahiyah. Perempuan
adalah sumber peradaban yang utama karena menghasilkan keturunan yang
akan menulis ceritanya masing-masing. Sulit membayangkan jika
tanda-tanda dari kiamat itu adalah matinya perempuan dan mendominasinya
laki-laki? Nampaknya itu terlalu utopis, peradaban akan tetap berlanjut
karena masih ada wanita tangguh yang bernama IMMAWATI.
Langganan:
Komentar (Atom)
Ujian Akhir Semester
Strategi Pemasaran Beras Merah Organik Perkemba...
-
Analisa Pros-Cons (Aspek Positif Dan Aspek Negatif) Analisi Pros-Cons adalah suatu cara untuk menilai apakah ide usaha yan...