”Sikap Tabayyun Dalam Meminamilisir Dampak Era Post Truth ”
Oleh
: Intan Nia Tata Ayu
Delegasi
PC IMM Bangkalan
1. Pendahuluan
Mengamati
perilaku sosial masyarakat saat ini, kita mendapati bahwa pola-pola interaksi
sosial di sekitar kita mengalami perubahan secara drastis. Perubahan itu tidak
hanya pada level masyarakat secara umum,
tetapi juga pada unit sosial mahasiswa. Hal itu disebabkan oleh meningkatnya
peran teknologi internet dan media sosial dalam keseharian kita sebagai
generasi milenial. Pada tingkatan yang lebih canggih lagi, perangkat-perangkat
canggih itu telah memberikan kemudahan kepada kita dengan berbagai macam cara-cara
pada kita berkehidupan sosial.
Terciptanya digitalisasi
dan teknologi terbarukan seperti smartphone (gadget) menjadi sebuah candu baru, aktivitas manusia menjadi
termudahkan dan berdampak pada sifat serba instan. Perkembangan teknologi yang
sangat pesat bisa menyebabkan kurangnya kepekaan sosial dan mempengaruhi nalar
berfikir manusia[1].
Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebutuhan manusia
semakin kompleks bahkan sampai pada kebutuhan manusia untuk memperoleh
informasi dari berbagai bidang ilmu dan masalah yang ada. Kencangnya arus
informasi di era digital yang begitu masif menyebabkan masyarakat yang
terkoneksi dengan media sering menerima banyak informasi yang begitu hebatnya.Informasi
yang seperti ini tentu saja bisa di pandang sebagai sesuatu yang menguntungkan
karena masyarakat sebagai khalayak informasi memiliki banyak alternatif
informasi tentang sebuah masalah. Masyarakat dapat dengan mudahnya mendapatkan
informasi yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
Problem yang
muncul dari situasi semacam ini adalah menyangkut kualitas dan kredebilitas isi
dari informasi yang diterima masyarakat itu sendiri. Persoalan ini masih
ditambah dengan miskinnya literasi yang di punyai masyarakat secara umum. Hal
ini membuat mereka tentu saja tidak dapat menimbang,memilih, atau bahkan menilai
mana informasi yang benar dan mana yang bukan. Masyarakat tidak memiliki
kecakapan dalam menentukan informasi mana yang benar, mana yang palsu, dan mana
yang keliru. Situasi yang seperti inilah kemudian meyuburkan perkembangan hoaks
di tengah masyarakat. Hoaks diartikan sebagai sebuah berita bohong dengan
memutar balikkan fakta yang sengaja diproduksi untuk membangun opini untuk
kepentingan pembuatannya.
Kuatnya pengaruh
media sosial, tempat konkow-konkow dan grup-grup online di Indonesia telah mengubah persepsi kita tentang pola
interaksi dan fungsi koordinasi dalam kehidupan masyarat apalagi lingkungan mahasiswa.
Jika media sosial dan bahkan media-media mainstream berperan penting pada semua
aktivitas kita dengan begitu semakin efektifnya, maka betapa sulitnya bagi kita
untuk melihat dan memilih mana fakta atau kebodohan, dan kejujuran atau ketidak
jujuran, mana fiksi atau fakta. Inilah nuansa kehidupan yang sedang kita alami,
katika kebenaran tidak lagi penting.
Berdasarkan beberapa
referensi yang penulis baca, dikatakan bahwa generasi milenial cenderung lebih
tidak peduli terhadap keadaan sosial, termasuk politik dan ekonomi. Mereka
cenderung lebih fokus kepada pola hidup kebebasan dan hedonisme. Mereka
cenderung menginginkan hal yang instant dan tidak menghargai proses.
Mempercayai barbagai berita dan isu-isu dalam kehidupan sehari-hari tanpa
melakukan tabayun terlebih dahulu atas isu dan berita yang mereka dengar atau
mereka peroleh.
Di era ini
segala sesuatu bergerak dengan cepat, dunia menjadi tanpa batas, informasi
dapat diperoleh dimana saja dan dari siapa saja. Generasi masa kini harus
berusaha dan mampu bersikap bijak terutama dalam penggunaan media sosial. Media
sosial ini mirip dengan politik, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Kita
bisa berguna dan bertambah pintar apabila menggunakan media sosial dengan
benar, tapi kita juga bisa menjadi penyebar hoaks dan menjadi bodoh apabila
kita menggunakan media sosial dengan tidak benar.
Generasi
milenial adalah generasi yang sangat mahir dalam teknologi. Dengan kemampuannya
di dunia teknologi dan sarana yang ada, generasi ini memiliki banyak peluang
untuk bisa berada jauh di depan dibanding generasi sebelumnya. Dalam konten ini
generasi milenial tentu saja punya cara yang khas dalam memanfaatkan media
sosial untuk berjejaring, berbagi informasi, dan melakukan perubahan sosial[2].
Bagi generasi milenial gadget dan internet seolah menjadi kekasihnya. Gadget
seharusnya dapat membantu memudahkah manusia
dalam segala pekerjaannya,tapi nyatanya mereka malah menjadi budak dari
barang yang mereka beli.
Generasi
milenial yang di dominasi oleh mahasiswa ini harus bisa bertindak sebagai agent
change dan memutus lingkaran setan tersebut. Mahasiswa
dalam struktur masyarakat harus dapat memegang peran tersendiri serta mempunyai
arti penting bagi perjalanan bangsa. Ada dua kedudukan mahasiswa bagi struktur
masyarakat yakni, pertama merupakan bagian dari generasi muda yang merupakan
pelanjut dan pengisis dari pembangunan bangsa. Yang kedua adalah merupakan
bagian dari kaum intelektual. Oleh karena itu mahasiswa dalam perjalannanya di
mana saja adalah merupakan salah satu sumber kepemimpinan bangsa, sebagai salah
satu kekuatan moral bangsa memiliki jumlah yang besar dari bagian intelektual
bangsa maupun mempengaruhi perubahan sosial serta kekuatan kolektif dan
pencetus kesadaran masyarakat[3].
Penjelasan di
atas cukup mengantarkan kepada satu kesimpulan bahwa keadaan masyarakat
Indonesia sekarang ini sangat memprihatinkan dimana pengaruh ketertarikan
emosional dan kepercayaan pribadi lebih penting dibandingkan fakta dan data
yang objektik dalam membentuk opini publik. Disinilah sesungguhnya mahasiswa
harus mengambil peran. Sebagai kaum terdidik tentu mahasiswa memiliki kemampuan
intelektualitas yang cukup untuk membentengi diri agar tidak terjebak pada
situasi hoaks. Dengan kemampuan metodologis yang dimiliki mahasiswa, bukan hal
yang sulit untuk melakukan verifikasi dan validasi informasi. Sehingga lewat
kelebihan yang dimiliki tersebut, mahasiswa mampu melakukan edukasi terhadap
publik agar publik tidak mudah meyakini sebuah informasi yang diterima.
2. Pembahasan
Pada
tahun1992, Steve Tesich berusaha mengungkapkan kegelesihannya pada majalah
Nation Magazine tentang perilaku politisi dan penguasa dalam membentuk opini
publik. Yang menggunakan kata post truth untuk menjelaskan manipulasi data dan
fakta dalam rangka membentuk opini publik. Secara umum pada hari-hari ini post
truth didefinisikan sebagai keadaan atau situasi diamana lebih menonjolkan
opini dan tafsir terhadap fakta.
Di zaman pasca kebenaran ini membawa
dampak baik mauapun dampak buruk dalam kehidupan sosial masyarat. Dampak baik
dari era pasca kebenaran, masyarakat
tidak mempunyai kecakapan dalam memilih mana informasi yang benar, mana yang
keliru, hal tersebut bertujuan untuk membangun opini kepentingan pembuatnya.
Hal seperti ini membuat masyarakat lebih mudah di atur oleh para penguasa. Dampak
buruk dari era paska kebenaran, masyarakat tentu saja tidak dapat
menimbang,memilih, atau bahkan menilai mana informasi yang benar dan mana yang
bukan. Tiap orang mengangap dirinya pasti benar dan yang lain pasti salah.
Kelompok masyarakat menyamapaikan kebenaran menurut versi masing-masing, sesuai
kepentingan masing-masing, dan menenggelamkan fakta yang ada.
Dampak dari era pasca kebenaran
lebih banyak membawa dampak buruk daripada dampak baiknya. Dengan demikian
perlu adanya tindakan untuk meminimalisiri dari dampak buruk tersebut. Di era
pasca kebanaran seperti sekarang ini, bukan berarti tidak ada ruang yang bisa
dimasuki oleh para kelompok intelektual yang berpikir sehat. Salah satunya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai
organisasi perkaderan yang memiliki medan juang dalam tiga ranah yaitu,
keagamaa, kemahasiswaan,dan kemasyarakatan[4].
Sebagai organisasi perkaderan, IMM
memiliki alat kelengkapan yang bertanggung jawab atas seluruh perkaderan IMM
baik secara formal maupun informal. Dengan kata lain, instruktur merupakan
tulang punggung perkaderan pada IMM. Sehingga dalam menghadapi dampak buruk
dari era post truth, instruktur IMM
dituntut untuk berkreasi dalam rangka internalisasi nilai-nilai IMM kepada
kader IMM itu sendiri.
1. Keagamaan
Pada
bidang keagamaan sering kita dapati dalam kehidupan bermasyarakat terjadi
taqlid buta. Taqlid buta ialah mengikuti apa yang dilakukan orang lain tanpa
tahu atau mecari tahu terlebih dahulu dasar dalilnya. Salah satu taqlid buta
yang terjadi dalam masyarakat ialah hukum musik menurut islam. Pada sekelompok
organisasi islam ada yang menganggap musik hukumnya haram, namun sebagian organisasi
islam yang lain menggap musik itu tidak haram tergantung dilihat dari segi
dampak baik maupun buruk yang ditimbulkan. Masing-masing organisasi islam mengeluarkan
dasar hukum musik berdasarkan dalil yang sudah mereka cari dan mereka yakini.
Namun beda halnya dengan masyarat awam mereka cenderung ikut-ikutan tanpa tabayyun
terlebih dahulu, jika ada seorang masyarakat mendengarkan dakwah dari salah
satu ulama’ bahwa musik itu maram secara otomatis mereka juga ikut mengharamkannya.
Pemaparan
diatas merupakan dampak buruk dari era pasca kebenaran pada bidang keagamaan. Peran
IMM sangat dibutuhkan dalam meminimalisir berbagai masalah yang terjadi. Hal
seperti inilah yang menjadi tugas instruktur dalam mengajak kader IMM untuk selalu
bertabayyun terlebih dahulu dalam
menyikapi hukum-hukum dalam islam agar tidak terjadi taqlid buta dalam diri
kader. Mengajak kader untuk bertabayyun tidak harus dalam forum formal seperti
kajian, namun juga dapat dilakukan di warung kopi.
2. Kemasyaraktan
Pada bidang
masyarakat dapat di jumpai terjadinya kampaye hitam pada pemilihan anggota
legislative dan eksekutif dalam pilkada
serentak di 171 daerah pada pemilu tahun 2019. Sehingga jika ada kekurangan dalam
diri setiap calon, masyarakat tetap menilai pilihan mereka adalah kandidat
terbaik di bandingkan dengan yang lain. Hal tersebut dapat terjadi karena
adanya kampanye yang tidak berimbang.
Peran Ikatan
mahasiswa Muhammadiyah disini sangat dibutuhkan mereka tidak boleh membiarkan kemungkaran
dalam sistem pemerintahan. Hal yang dapat dilakukan oleh instruktur dalam
memimalisir hal-hal seperti itu salah
satunya dengan mengadakan kajian politik atau sekolah politik. Kajian atau
sekolah politik dapat menjadi media kader IMM untuk saling menverifikasi
data-data dari calon anggota eksekutif maupun legislative.
3. Kemahasiswaan
Dalam
bidang kemahasiswaan dampak buruk dari era pasca kebenaran adalah demo.
Kebanyak mahasiswa hanya ikut-ikutan demo tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang
mereka aspirasikan kepada pemerintah.
Sehingga tidak jarang apabila salah satu dari demonstran ditanya jawabanya
pasti tidak tahu yang penting bisa ikut demo. Inilah salah contoh dampak buruk
dari era pasca kebenaran dilingkungan mahasiswa padahal meraka adalam kaum
intelektual.
Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah sebagai organisasi kemahasiswaan juga harus mengambil
peran lebih dalam menyikapi hal tersebut. Kader IMM sebagai kaum intelektual tidak pantas rasanya jika meraka hanya ikut-ikutan tanpa tahu
dasar yang sedang dipermasalahkan. Tugas instruktur dalam menyikapi
permasalahan yang seperti ini adalah dengan cara sering berdiskusi menganalisis
maupun mengkaji bersama kader IMM
tentang isu maupun permaslahan yang sedang terjadi di lingkungan
mahasiswa.
Penutup
Dampak
dari era pasca kebenaran begitu besar dan sangat berpengaruh dalam perubahan
pola pikir masyarakat. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang memiliki tiga medan
juang diharapkan menjadi garda terdepan dalam meminimalisir dampak buruk dari
era pasca kebenaran. Tugas yang diemban IMM adalah melakukan transformas
soaial. Kader IMM harus menjadi agen perubahan dalam masyarakat dan mengawasi
berbagai masalah dan persoalan yang ada dengan tetap bertabayun terlebih dahulu
agar tidak terjadi taqlid buta dalam kehidupan masyarakta. Karena itulah IMM
memiliki trilogi yang dimaknai sebagai integral dalam menjalankan aktivitas
sosial kadernya. Transformasi trilogi kepada kader menjadi hal utama. Dengan
tranformasi trilogi IMM ini diharap dapat membentengi diri dan memberi bekal
kepada kader di era pasca kebanaran. Tidak
hanya sampai disini diharapkap kader IMM menjadi agen perubahan dalam kehidupan
bermasyarakat. Inilah yang dinamakan perkaderan yang baik dalam jangka waktu
yang panjang melalui transformasi trilogi IMM di era pasca kebenaran.
Daftar Pustaka
Buku
AF, Farid Fathoni.1990. Kelahirang Yang Dipersoalkan. Surabaya : PT Bina Ilmu.
Keyes, Ralph. 2004. The Post Truth Era. New York : Library of
congress cataloging.
Sani, M. Abdul Halim. 2017. Manifesto Gerakan Intelaktual
Profetik. Surakarta : Muhammadiyah University
Press.
Setowara, Subhan .
2018. Muslim Milenial. Bandung : PT Mizan Pustaka.
Jurnal
Mohammad Zamroni. 2009. Perkembangan Teknologi Komunikasi Dan
Dampaknya Terhadap Kehidupan. Yogyakarta
: Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga. Jurnal Dakwah Vol. 5 No.2 hlm 209.
[1] Mohammad Zamroni,
“Perkembangan Teknologi Komunikasi Dan Dampaknya Terhadapa Kehidupan”, Jurnal
Dakwah Vol. 5 No.2, (Yogyakarta : Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga,
2009). Hlm 209.
[2] Subhan Setowara, “Muslim
Milenial”, (Bandung : PT Mizan Pustaka,2018), hlm.16.
[3] Farid Fathoni
AF,”Kelahirang Yang Dipersoalkan”, ( Surabaya : PT Bina Ilmu,1990), hlm.77.
[4] M. Abdul Halim Sani, “ Manifesto
Gerakan Intelaktual Profetik” (Surakarta : Muhammadiyah University Press,2017),
hlm.5.